Saturday, 16 May 2015

Malu

Saya malu ketika ada panggilan telepon dari sebrang sana
Ada suara lembut seseorang yang tanpa diminta pun pasti akan menemani
yang rupanya tak sempurna, tapi segala tuturnya menenangkan

Saya malu untuk kesekian kalinya
ketika harus berbicara padanya dari belahan pulau jawa bagian tengah ini
saya yang menggenggam ponsel erat dan berbicara seadanya

Banyak yang ia ceritakan
terkadang tentang rutinitas hariannya yang melelahkan
bukan keluhan, tapi runtutan cerita harian
ya, di umurnya yang semakin matang, saya tahu ia butuh istirahat
ada yang ingin saya katakan
ibu, istirahat aja, gausah kerja lagi kalo emang udah capek..
tapi apa semudah itu
apa saya bisa menjamin semua kebutuhan akan terpenuhi tanpa usahanya, ketika kondisi saya sekarang justru sedang mengadahkan tangan kepadanya..

Terkadang pula ia sedikit bercerita kondisi kesehatannya yang menurun
ya, sedikit bercerita karena mungkin lebih banyak yang tidak diceritakannya
ada yang ingin saya katakan
maafkan saya, ilmu ini masil setetes bahkan kurang
ini masih garis awal, bahkan saya baru saja memulai
masih ada ratusan hari lagi yang harus dilewati untuk membuat saya benar benar dapat bermanfaat untuknya, untuk dapat memberikan lebih dari sekedar ilmu yang seadanya

Saya malu dengan segala kenyamanan yanng diberikannya
saya malu dengan semua kasih sayangnya

Apa yang saya lakukan dengan studi saya?
Masih seadanya, seharusnya maksimal
masih mengeluh, seharusnya bersyukur
masih berjalan, seharusnya berlari
Sedangkan waktu terus berjalan
sampai kapan pun saya tidak tahu
yang saya tahu saya hanya punya sedikit waktu
umurnya terus bertambah, sedang kontraknya semakin berkurang

Allah, hanya sepotong doa kecil yang dapat ku selipkan, yang tak akan nyata tanpa izinMu, yang akan menjaga hati yang terpisah 507km ini...


No comments:

Post a Comment